Praktisi P3K Soroti Kesiapan Relawan Saat Hadapi Korban Kecelakaan

Kota Samarinda 01 Sep 2026 05:12 3 min read 11 views By Nicko
Praktisi P3K Soroti Kesiapan Relawan Saat Hadapi Korban Kecelakaan
Tak Cukup Hanya Bisa Menolong di Lokasi, Kondisi Korban Harus Terus Dipantau Selama Perjalanan ke Rumah Sakit

SAMARINDA – Relawan ambulans dituntut tidak hanya sigap ketika menemukan korban kecelakaan, tetapi juga mampu memantau perubahan kondisi korban sepanjang proses evakuasi. Kemampuan tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi kondisi darurat yang bisa muncul sewaktu-waktu.

Praktisi pertolongan pertama, Hermansyah, menyampaikan hal itu saat memberikan pembekalan dalam pelatihan dan penyegaran pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) yang digelar Dewan Pimpinan Daerah Partai Solidaritas Indonesia (DPD PSI) Kota Samarinda, Senin (31/8/2026).

Menurut Hermansyah, proses pertolongan terhadap korban tidak selesai setelah tindakan awal diberikan. Ketika korban dipindahkan ke ambulans untuk mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan, relawan tetap harus memperhatikan kondisi korban.

"Tidak hanya cukup dengan pembekalan pertolongan pertama di tempat kejadian. Pada saat proses dirujuk, teman-teman juga harus memperhatikan kondisi pasien selama berada di ambulans sampai ke rumah sakit," ujar Hermansyah.

Ia mengatakan relawan ambulans berhadapan dengan berbagai kemungkinan di lapangan. Kondisi korban yang terlihat stabil saat pertama kali ditemukan dapat berubah selama perjalanan.

Salah satu kondisi yang perlu diantisipasi adalah ketika korban mengalami gangguan pernapasan hingga henti jantung. Dalam situasi tersebut, kemampuan relawan melakukan tindakan dasar dan menggunakan peralatan pendukung menjadi sangat penting.

Karena itu, Hermansyah memberikan pembekalan tidak hanya mengenai teknik pertolongan pertama, tetapi juga penggunaan sejumlah peralatan yang dapat membantu proses penanganan korban.

Peserta diperkenalkan dengan perlengkapan seperti kasa, neck collar, alat bantu jalan napas hingga automated external defibrillator (AED).

"Teman-teman relawan ini kita bekali dengan materi pertolongan pertama yang sering terjadi di jalan, mulai dari perdarahan, luka, sampai ketika korban mengalami henti jantung," katanya.

Hermansyah menjelaskan, pemahaman terhadap peralatan harus dibarengi dengan kemampuan mengenali kondisi korban. Relawan harus mengetahui tindakan apa yang diperlukan dan kapan peralatan tertentu digunakan.

Pelatihan tersebut berlangsung di Sekretariat DPD PSI Samarinda, Jalan Perjuangan. Sekitar 40 peserta mengikuti kegiatan yang melibatkan relawan ambulans, tim medis, komunitas kemanusiaan, anggota PSI hingga masyarakat umum.

Hermansyah mengapresiasi inisiatif PSI Samarinda yang menggelar pelatihan dengan melibatkan berbagai kelompok relawan. Menurutnya, peningkatan kemampuan relawan merupakan bagian penting dalam mendukung pelayanan kemanusiaan di lapangan.

"Alhamdulillah, hari ini kita melaksanakan pelatihan pertolongan pertama di DPD PSI Kota Samarinda," ujarnya.

Ia menilai kegiatan tersebut memiliki nilai positif karena memberikan ruang bagi para relawan untuk memperbarui pengetahuan sekaligus berlatih menghadapi kondisi yang mungkin mereka temui ketika bertugas.

Hermansyah juga menyoroti keterlibatan berbagai komunitas dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, semakin banyak relawan yang memahami pertolongan pertama, semakin luas pula kemampuan masyarakat dalam memberikan respons awal ketika terjadi keadaan darurat.

"Ini hal yang baru dilakukan oleh seluruh partai yang ada di Samarinda, khususnya bagaimana teman-teman DPD PSI peduli terhadap situasi kecelakaan dan teman-teman relawan yang basic-nya bekerja di kemanusiaan," ungkapnya.

Ia pun memberikan apresiasi kepada DPD PSI Samarinda karena memberikan perhatian terhadap peningkatan kemampuan relawan.

"Apresiasi yang setinggi-tingginya untuk DPD PSI Kota Samarinda karena mau peduli terhadap teman-teman relawan," katanya.

Pelatihan tersebut diikuti sejumlah komunitas, di antaranya Tim Medis ITS, Relawan Medis SANAK, RPK PSR 13, Relawan MTAB, Relawan Ambulans PSI, Relawan RBT, Pramuka Peduli, Relawan Arizuan, Relawan Ambulans KKSS, PMI Anggana dan komunitas lainnya.

Agus Sugianto dari Relawan Ambulans PSI bertindak sebagai moderator dalam kegiatan tersebut.

Hermansyah berharap pembekalan tidak berhenti pada kegiatan sehari. Ia mendorong peserta terus mengasah keterampilan agar lebih siap ketika harus menghadapi korban dalam kondisi darurat.

"Ilmu pertolongan pertama harus terus dipelajari dan dipraktikkan, karena kita tidak pernah tahu kapan kemampuan itu dibutuhkan untuk membantu orang lain," pungkasnya.

Penulis: Nicko 

Chat with us on WhatsApp